headerJan14 en

1 foto_History_of_Batak_Mission_cetak

Bagaimana mereka dapat bertemu dan siapa keempat misionaris ini?

Para pendahulu United Evangelical Mission (UEM), mendirikan the Rhenish Mission (RMG) pada tahun 1828 dan mengutus empat orang misionaris ke Afrika Selatan. Para misionaris dilatih ketrampilan di tempat seminari untuk tugas penginjilan dan mereka semuanya adalah laki-laki. Pada tahun 1836, Rhenish Mission (RMG) mengutus misionaris pertama ke Indonesia di Banjarmasin (Kalimantan). Beberapa orang Kalimantan melakukan perlawanan terhadap kekuatan kolonial Belanda, dan tahun 1859 pemerintah melarang penginjil untuk melanjutkan aktivitas mereka di sana.

Setelah melakukan pembicaraan di Belanda, pada tanggal 31 Oktober 1859, Friedrich Fabri (menjabat direktur) dan bertindak sebagai utusan Rhenish Mission (RMG) memutuskan untuk memulai penginjilan di Sumatera. Akan tetapi pada tahun 1857, Emelo (Belanda) telah mengirim misionaris ke Sumatera. Beberapa diantara mereka adalah Gerrit van Asselt dan Wilhelm Friedrich Betz.

Van Asselt lahir pada tahun 1832 di Belanda. Ia pindah ke Sipirok pada tahun 1857 untuk bekerja dengan pemerintah dan mencoba mengabarkan injil di sana. Hingga tahun 1857 ia bertugas di Pangaluan dan selanjutnya kembali ke Belanda karena kondisi kesehatan. Disana ia bekerja untuk RMG hingga kematiannya pada tahun 1910. Wilhelm Friedrich Betz lahir pada tahun 1832 dan dikirim ke Sumatera tahun 1860. Dari tahun 1861 hingga 1869 ia bertugas mengabarkan injil di wilayah Bungabondar. Setelah kembali ke Belanda ia pindah ke Amerika Utara melayani sabagai pendeta. Tahun 1881 ia terbunuh di Belanda.

Kedua penginjil Jerman adalah Carl Klammer dan Wilhelm Heine. Klammer lahir pada tahun 1826, pertama kali bertugas di Kalimantan, dan selanjutnya sampai tahun 1883 di Sipirok. Sekembalinya ke Jerman ia melayani sebagai pendeta dan meninggal pada tahun 1919. Heine lahir pada tahun 1833 di Rusia Selatan dan bertugas di Sigompulan hingga 1873. Dia adalah salah satu penginjil pertama RMG yang melihat Danau Toba pada tahun 1873. Setelah kembali ke Rusia Selatan ia menjadi pendeta disana sampai kematiannya tahun 1897. Penginjil Jerman yang ketiga adalah Ernest Denninger, yang tidak hadir dalam pertemuan itu. Beliau Berangkat ke Padang dan akhirnya memulai tugas penginjilan di Nias pada tahun 1865.

Lalu bagaimana dengan Nommensen?

Ludwig Ingwer Nommensen datang ke Sumatera pada bulan Mei 1862 dan menetap pertama kali di Barus. Ia lahir pada tahun 1834 di Nordstrand, Jerman dan mengikuti pendidikan seminari RMG di Wupertal-Barmen. Pada tahun 1863 ia pindah ke Silindung dan kemudian menjalani penginjilan dengan sepenuhnya. Dengan bantuan Raja Pontas Lumbantobing, ia membangun perkampungan Kristen bernama Huta Dame. Nommensen menunjukkan rasa hormat terhadap budaya tradisional Batak dan mencoba menyesuaikannya dengan ajaran Kristen. Ia menjadi ephorus pertama HKBP, sebuah gereja Kristen yang pertama didirikan bagi orang Batak di tahun 1881.

Melihat laporan tahunan RMG tahun 1919, kita dapat mengetahui perkembangan dalam pengabaran injil. Mereka memiliki 41 pos pengajaran injil yang dibagai dalam enam wilayah, yang juga disebutkan sebagai wilayah penginjilan pertama:

Bagian Selatan: Sipirok dan Bungabondar (1861)

Silindung : Pearaja – Tarutung (1864)

Toba : Balige (1881)

Steppe: Lintong Ni Huta (1882)

Samosir : Sibalungun dan Pakpak: Nainggolan (1893)

Uluan : Pangombusan dan Djandji Martogu (1894)

Pada saat itu ada 55 misionaris yang bekerja di wilayah tersebut dan 103.528 orang Kristen yang dihitung (jumlah dari tahun 1911).

Pentingnya gerakan penginjilan bagi orang Batak adalah pendidikan para guru dan penginjil serta para pendeta. Inilah yang menjadi perhatian misionaris Peter H. Johansen (1839-1898) yang mengajar di Pansurnapitu.

Perkembangan penting lainnya dimulai di Sumatera, yang merupakan perkembangan khusus bagi RMG. Pada tahun 1890, seorang penginjil perempuan bernama Hester Needham (1843-1897) dari Inggris dikirim ke Pansurnapitu dan atas upayanya perserikatan penginjil perempuan dibentuk. Hingga tahun 1914 sekitar 30 perempuan bekerja untuk orang Batak. Hal yang penting adalah mereka bekerja untuk pendidikan, khusunya pendidikan bagi kaum perempuan. Mereka juga sangat dibutuhkan untuk paroki-paroki dan rumah sakit.

Nommensen meninggal pada Tahun 1918 bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia I. Selama masa perang dan sesudahnya para misionaris menghadapi masa-masa sulit karena tidak mendapat dana yang cukup untuk menjalankan misi penginjilan. Oleh karena itu pemerintah kolonial memberi bantuan khususnya dalam pendidikan dan pekerjaan medis.

Saat terpilih sebagai direktur RMG, Johannes Warneck (1867-1944) seorang mantan misionaris di tanah Batak, diangkat menjadi ephorus pada tahun 1920 dan melayani hingga tahun 1932. Sinode pertama diadakan pada tahun 1922 di Sipaholon dan dihadiri oleh dua utusan dari Angkola, sembilan dari Silindung-Pahae-Sibolga, sembilan dari Hoemban, delapan dari Toba-Oeloean-Samosir, dan dua dari Sibaloengoen-Sidikalang, serta masing-masing seorang pendeta dan guru, dan dua orang dari Zending Batak (tanpa hak suara). Sebuah aturan baru gereja diumumkan tahun 1930, yang mengharuskan gereja agar mandiri. Hal ini sebagai reaksi terhadap Zending Batak yang bersikap mendua sejak 1927.

Ketika Jerman menduduki Belanda di Tahun 1940 semua misionaris Jerman dan keluarga mereka ditawan. Pada waktu itu ada sekitar 434.000 orang Kristen di Tanah Batak.

Dalam sinode raya pada July 1940, Gereja Batak memilih pendeta Kasianus Sirait sebagai orang Batak pertama yang menjadi ephorus, dan saat pemilihan ini penginjilan RMG di tanah Batak berakhir.

Tetapi hubungan antara gereja yang mandiri sekarang dengan RMG tidak berakhir di sini. Setelah perang tahun 1947, Pendeta Tunggul Sihombing mengunjungi kantor penginjil di Wuppertal. Pada Oktober 1948, RMG menyerahkan tanah mereka di Sumatera untuk gereja. Tahun 1952, dua perempuan penginjil dari Sumatera mengikuti studi lanjut di Jerman. Dan kemudian, saat Rhenish Mission (RMG) berganti menjadi United Evangelical Mission (UEM), pendeta dari gereja-gereja Batak dilibatkan dalam memberi masukan untuk sebuah misi persekutuan gereja di tiga benua. Di sini saya ingin menyebutkan hanya Pendeta H. Girsang yang menjabat sebagai sekretaris "persekutuan misi" dan Dr. S. Nababan menjadi moderator pertama untuk UEM yang baru ini.

Bila anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang sejarah gereja-gereja di Sumatera, anda bisa membaca bab terkait dalam Sejarah Kekristenan di Indonesia (A History of Christianity in Indonesia. Eds. Aritonang / Steenbrink. Leiden 2008). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubungi "Archives and Museum Foundation of the UEM" di Wupertal, Jerman. ( This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. "> This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. ).

*Pustakawan di Archives and Museum

Foundation of the UEM di Wupertal, Jerman

You are here: Home Home Tema Edisi Sejarah Singkat Penginjilan di Tanah Batak